29 April 2008

ANALISIS SEMANTIK PENGERTIAN DIN, MILLAH, SYARI’AH, MINHAJ, HANIFIYYAH (METODOLOGI STUDI ISLAM)

PENDAHULUAN 

Pada zaman sekarang ini zaman yang sudah sangat jauh dari zamannya para Nabi dan pengikut-pengikutnya, zaman dimana teknologi sudah diagung-agungkan, ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat dan berorentasi kualitas.
Islam datang dengan berbagai petunjuk yang ada didalamnya tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap dan menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna. Dengan ditempatkannya manusia pada posisi yang tinggi yaitu tidak hanya sebagai hamba Allah tetapi juga sebagai khalifah yang mengatur dan mengelola bumi beserta isinya, dan semua itu telah disiapkan dalam ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Dan dalam memahami Islam bagi mereka yang baru mempelajari Islam atau baru saja akan mempelajari Islam, terdapat kebingungan tentang istilah-istilah yang ada dalam Islam, seperti Apa itu Din? Apa itu Millah? Apa perbedaan Din dan Millah? Apa itu minhaj? Apa itu syari’at? Dan apa perbedaan syari’at dengan ilmu fiqh? Apa itu hanifiyyah? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuat orang tambah bingung dan jika bingungnya tidak terjawab karena mungkin malu untuk bertanya, di khawatirkan orang tersebut akan justru menjauhi Islam atau yang lebih parahnya lagi malah meninggalkan Islam.
Oleh karena itu saya mencoba menjelaskan beberapa istilah-istilah yang ada pada saat mempelajari Islam agar tidak terjadi kesalahpahaman atau ketidaktahuan nantinya. Diantaranya yaitu saya akan mencoba menjelaskan dan menjabarkan perbedaan dari segi semantik tentang istilah-istilah diatas dengan bersumber dari beberapa referensi dan dari pengetahuan yang telah saya dapatkan yang tentunya sangat terbatas.


BAB II
ANALISIS SEMANTIK

A. Pengertian Din
Pengertian agama dapat dilihat dari sudut kebahasaan dan istilah. Mengartikan agama dari sudut kebahasaan lebih mudah daripada mengartikan agama dari sudut istilah karena pengertian agama dari sudut istilah ini sudah mengandung muatan subjektifitas dari orang yang mengartikannya[1].
Mukti Ali pernah mengatakan, barangkali tidak ada kata yang paling sulit diberi pengertian dan definisi selain dari kata agama. Pernyataan ini didasarkan pada tiga alasan. Pertama, bahwa pengalaman agama adalah soal batini, subjektif, dan sangat individualis sifatnya. Kedua, barangkali tidak ada orang yang begitu semangat dan emosional daripada orang yang membicarakan agama. Karena itu, setiap pembahasan tentang arti agama selalu ada emosi yang melekat erat sehingga kata agama ini sulit didefinisikan. Ketiga, konsepsi tentang agama dipengaruhi oleh tujuan dari orang yang memberikan definisi tersebut[2].
Pengertian agama dari segi bahasa adalah hukum peraturan, undang-undang, tuntutan, disiplin, taat, tingkah laku, adat kebiasaan, perhitungan, hutang, balasan, dan ibadah kepada Tuhan[3]. Menurut Harun Nasution dalam masyarakat Indonesia selain dikenal kata agama juga dikenal kata din (دﯾن) dari bahasa Arab dan religi dari bahasa Eropa. Menurut suatu pendapat, begitu Harun Nasution mengatakan, kata itu tersususun dari dua kata, a = tiadak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi secara turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, juga dari kata a dan gama yang artinya tiada akhir, perbuatan (perkataan) yang tiada akhir[4]. Sedangkan religi berasal dari bahasa latin, yaitu relegare yang artinya mengumpulkan atau membaca. Pengertian ini sejalan dengan isi agama yang mengandung kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan yang terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Dan menurut pendapat lain, berasal dari kata religare yang berarti mengikat[5]. Jadi Harun Nasution menyimpulkan intisari yang terkandung dari pengertian diatas adalah ikatan, dalam agama terdapat ikatan antara roh manusia dengan Tuhan, dan agama lebih lanjut lagi agama memang mengikat manusia dengan Tuhan. Agama memang mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi oleh manusia, yang mempunya pengaruh besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari mausia, satu kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra[6].
Sedangkan agama dari segi istilah dapat dikemukakan sebagai berikut. Ellizabet K. Nottingham dalam bukunya agama dan masyarakat mengatakan bahwa agama adalah gejala yang begitu sering terdapat dimana-mana sehingga sedikit membantu kita untuk membuat abstaraksi ilmiah. Lebih lanjut dia mengatakan agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaaan alam semesta. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna dan juga perasaan takut dan ngeri[7]. Sementara itu Durkheim mengatakan bahwa agama adalah pantulan dari solidaritas sosial. Bahkan kalau dikaji, Tuhan itu sebenarnya adalah ciptaan masyarakat. Dan pendapat tersebut dibantah oleh Taufik Abdullah yang mengatakan bahwa hal itu bersifat sekular dan akan menghilangkan relevansinya karena digantikan oleh moralitas ilmiah. Taufik Abdullah menilai bahwa agama bersifat universal[8].
Dari kesimpulan tersebut dapat dijumpai adanya 5 aspek yang terkandung dalam agama. Pertama, aspek asal-usulnya, yaitu ada yang berasal dari Tuhan seperti agama samawi dan ada juga yang berasal dari pemikiran manusia seperti agama ardi atau agama kebudayaan. Kedua, aspek tujuaannya, yaitu untuk memberikan tuntunan hidup agar bahagia dunia dan akhirat. Ketiga, aspek ruang lingkupnya, yaitu keyakinan akan adanya kekuatan gaib dan adanaya yang dianggap suci dan harus berbuat baik dengannya untuk kebahagiaan tersebut. Keempat, aspek permasyarakatannya, yaitu disampaikan secara turun temurun. Dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kelima, aspek sumbernya, yaitu kitab suci[9].
Dan jika kita mengatakan agama Islam atau Dinul Islam, maka itu sudah jelas dan definitif karena agama Islam adalah agama wahyu. Artinya sumber ajarannya adalah wahyu Tuhan yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya dan penutup semua nabi, beliau adalah nabi terakhir. Beliau juga adalah Utusan Allah SWT yang bertugas menyampaikan petunjuk Tuhan kepada manusia dan mengajak manusia menerima petunjuk Tuhan itu dan menjadikannya pedoman hidup dalam kehidupan di dunia ini dalam perjalanan menuju ke tempat manusia yang kekal di akhirat kelak.
Agama Islam memiliki batasan yang jelas, mana yang Islam dan mana yang di luar Islam. Sejak awal, Islam sudah didefinisikan dengan jelas oleh Nabi Muhammad saw. Imam al-Nawawi dalam Kitab hadits-nya yang terkenal, al-Arba’in al-Nawawiyah, menyebutkan definisi Islam pada hadits kedua: "Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah, jika engkau berkemampuan melaksanakannya." (HR Muslim).

B. Pengertian Millah
Millah adalah salah satu istilah dalam bahasa Arab untuk menunjukkan agama. Istilah lainnya adalah din. Kedua istilah tersebut digunakan dalam konteks yang berlainan. Millah digunakan ketika dihubungkan dengan nama Nabi yang kepadanya agama itu diwahyukan dan Din digunakan ketika dihubungkan dengan salah satu agama, atau sifat agama, atau dihubungkan dengan Allah yang mewahyukan agama itu. Dalam perbincangan sehari-hari seing digunakan istilah-istilah millah Ibrahim, millah Ishaq dan sebagainya, atau din Islam, din haqq, din Allah dan sebagainya[10]. Millah yang terbesar adalah millah Ibrahim, millah yang lurus dan tidak cenderung kepada kebathilan, millah Ibrahim saat ini hanyalah agama Islam, dan nama ”ibrahim faith” sering didengung-dengungkan sudah tidak digunakan lagi karena diutusnya Nabi Muhammad[11].Dan juga agama Ibrahim adalah satu dan yang satu itu adalah agama Tauhid dan ini telah disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana firman Allah:
”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”(QS. Al Maidah :3)
“Dan mereka berkata: ‘Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk’. Katakanlah: ‘Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik’.” (Al-Baqarah: 135)
”Dia telah memilih kamu (untuk mengemban urusan agama-Nya) dan Dia tidak akan menjadikan kesulitan dalam urusan agama ini pada kalian; (maka, ikutilah) agama bapak kalian, Ibrahim. Dia telah menamai kalian sebelumnya dengan nama Muslim. (QS al-Hajj: 78)[12].

C. Pengertian Syari’ah
Pengertian-pengertian syari'ah di telah menjadi bagian dari perbincangan para ulama Islam sejak masa lalu sampai hari ini . Secara etimologis, syari'ah atau syara' menurut kata dasarnya berarti jalan ke sumber air atau jalan terang yang harus dilalui atau jalan yang harus diikuti oleh orang-orang beriman.( Dairah al Ma'arif al Islamiyah , Dar al Fikr, Beirut, vol. III, hal. 242)[13].
Secara terminologis Syari'ah dalam banyak pengertian ulama Islam adalah aturan-aturan atau hukum-hukum Tuhan yang tertuang dalam al Qur-an dan sunnah Nabi Muhammad saw. Aturan-aturan ini meliputi kompleksitas kebutuhan manusia baik yang bersifat individual maupun kolektif. Dengan kata lain syari'ah adalah penumbuhan (pelembagaan) kehendak Tuhan dengan mana manusia harus hidup secara pribadi dan bermasyarakat. Abu Ishak al Syathibi (w.790 H/1388 M), sarjana hukum Islam terkemuka dari Granada, menyatakan bahwa syari'ah merupakan aturan-aturan Tuhan dengan mana manusia "mukallaf" (dewasa) mendasarkan tindakan-tindakan, ucapan-ucapan dan keyakinan-keyakinannya. Inilah kandungan syari'ah secara global ( Al Muwafaqat fi Ushul al Ahkam , Muhammad Ali Subaih, Mesir, vol. I, hal. 49)[14].
Menurut bahasa juga Syari'ah (الشَّريعة) berarti tempat aliran air dan tempat keluar ternak menuju air yang mengalir. Kemudian pengertian kata ini dipinjam untuk digunakan pada pengertian istilah bagi setiap jalan yang ditetapkan oleh Allah yang tidak berubah, yang datang kepada kita melalui salah seorang nabi. Maka syari'ah dalam pengertian istilah yang berlaku adalah aturan yang diletakkan oleh Allah ta'ala bagi para hamba-Nya berupa hukum-hukum yang dibawa oleh salah seorang nabi di antara para nabi-Nya. Jadi syari'ah adalah buatan Allah bukan hasil ijtihad manusia; bersifat tetap, tidak berubah. Dari sini terdapat perbedaan antara syari'ah dan fiqih. Sebab fiqih adalah upaya ijtihad manusia dalam kerangka wilayah syari'ah ilahiah. Syari'ah bersifat tetap, sebab ia adalah prinsip-prinsip agama, sedangkan fiqih senantiasa berkembang sebab ia adalah furui'yyah (cabang) yang mengiringi dinamika perkembangan jaman, tempat dan kasus, kemaslahatan, dan pemahaman[15]. Contoh perbedaan styari’ah dengan fiqh adalah sebagai berikut: riba itu diharamkan ( ini syari'ah), apa bunga bank itu termasuk riba? (ini fiqh) dan contoh berikut, memulai shalat harus dengan niat (ini Syari'ah), apakah niat itu dilisankan (dengan ushalli) atau cukup dalam hati (ini Fiqh)[16].
Husein Muhammad, mengutip definisi syariat dari para ulama terdahulu, menyimpulkan bahwa syariat merupakan keseluruhan (totalitas) urusan keagamaan, mencakup keyakinan (aqidah), moral (akhlaq) dan hukum (fiqh), baik yang langsung diputuskan oleh Allah melalui al-Qur'an, atau Nabi melalui hadis, atau yang diputuskan oleh ulama melalui pemahaman dan penalaran (ijtihad). Artinya, syariat adalah semua ajaran, pemahaman dan praktek keagamaan yang didasarkan pada sumber-sumber Islam yaitu al-Qur'an dan Hadis[17]. Allah berfirman:

Artinya: “Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan (syir’at) dan jalan yang terang (minhaj).” (Q.S. Al Maidah: 48)
Tentang syari’at atau syir’atnya berbeda-beda hal ini juga terdapat dalam Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw itu sendiri ada juga perbedaan-perbedaan antara syari’at yang pertama dan kemudian dihapus dengan syari’at yang kedua (baru), misalnya kiblat yang semula Baitul Maqdis kemudian dihapus dan diganti dengan Ka’bah di Masjidil Haram Makkah, namun agamanya tetap Islam. Jadi agama dari Allah tetap satu, Islam, walau syari’atnya bermacam-macam, diganti-ganti dengan syari’at yang baru. Agama yang lama yang dibawa oleh nabi terdahulu diganti dengan agama yang baru yang dibawa nabi berikutnya, walaupun masih sama-sama Islam, maka orang yang masih hidup wajib mengikuti yang baru.
Apabila syari’at yang lama diganti dengan yang baru, maka orang yang masih hidup wajib mengikuti yang baru. Sehingga dengan datangnya Nabi Muhammad saw yang diutus membawa agama Islam sebagai nabi terakhir, nabi yang paling utama, dan tidak ada nabi sesudahnya, wajib diikuti oleh seluruh manusia sejak zaman nabi-nabi sebelumnya sampai kiamat kelak. Diutusnya Nabi Muhammad saw ini berbeda dengan nabi-nabi lain, karena nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw itu masing-masing hanya untuk kaumnya. Sedang Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia sejak saat diutusnya sampai hari kiamat kelak. Siapa yang tidak mengikutinya maka kafir, walaupun tadinya beragama dengan agama nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.
Orang-orang yang mengikuti Nabi Muhammad saw pun kalau sudah ada syari’at baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw pula, lalu pengikut itu menolak dan ingkar, maka menjadi kafir pula. Misalnya, orang Muslim yang mengikuti agama Nabi Muhammad saw, sudah mendapat penjelasan bahwa kiblat yang baru adalah Ka’bah, sedang sebelumnya kiblatnya adalah Baitul Maqdis; lalu si Muslim itu menolak kiblat yang baru (Ka’bah), maka kafir pula, sebab menolak ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Apalagi yang mengikuti agama nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw, begitu datang Nabi Muhammad saw sebagai utusan dengan Islam yang baru, maka wajib mengikuti Nabi Muhammad SAW jika tidak maka ia kafir.

D. Pengertian Minhaj
Manhaj dalam bahasa Arab adalah sebuah jalan terang yang ditempuh. Sebagaimana dalam firman Allah:
"Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur'an dengan membawa kebenaran, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu, Kami berikan aturan (syir'ah) dan jalan yang terang (minhaj). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah tempat kembali kamu selamanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." (al-Maa'idah: 48)
Juga firman-Nya:
“Dan kami jadikan untuk masing-masing kalian syariat dan minhaj.” (Al-Maidah: 48)
Kata minhaj dalam ayat tersebut diterangkan oleh Imam ahli tafsir Ibnu Abbas, maknanya adalah sunnah. Sedang sunnah artinya jalan yang ditempuh dan sangat terang. Demikian pula Ibnu Katsir menjelaskan (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/67-68).sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia minhaj adalah pendekatan atau metode.

E. Pengertian Hanifiyyah
Hanif artinya cenderung dari kesyirikan kepada ketauhidan, artinya ikhlas dalam beribadat dengan membersihkannya dari selain Allah atau juga Hanifiyyah adalah beribadah kepada Allah semata seraya meng-ikhlaskan agama bagi-Nya. Dan itulah yang Allah perintahkan kepada seluruh manusia dan untuk tujuan itu pula Allah menciptakan mereka[18].

F. Perbedaan Din dengan Millah dan Syariah
Mengemukakan pandangan Al Allamah al Thabathaba-iy, pemikir muslim dari Iran, ketika ia menguraikan perbedaan antara Syari'ah dan al Din. Ia mengatakan bahwa penggunaan kata Syari'ah dalam al Qur-an mempunyai arti lebih khusus daripada al Din . Syari'ah adalah jalan atau cara-cara yang ditempuh oleh suatu masyarakat/bangsa atau oleh seorang Nabi, seperti syari'at Nabi Nuh, syari'at Nabi Ibrahim, syari'at Nabi Musa, syari'at Nabi Isa dan syari'at Nabi Muhammad saw. Sementara din adalah jalan ketuhanan (al thariqah al ilahiyah) yang bersifat menyeluruh (universal) untuk semua bangsa. Syari'at bisa di naskh (dihapus/diganti), tetapi tidak untuk din . Al Mizan fi Tafsir al Qur-an , Al A'lami, Beirut, vol. V, hal.358)
Beberapa ulama kontemporer seperti Muhammad Syaltut, Sayyid Sabiq dan ath-Thabathab'iy, membedakan syariat dan aqidah, antara din, millah dan syariat. Aqidah adalah dasar prinsipal agama, sedang syariat adalah cabang, atau jalan menuju agama. Aqidah hanya satu dan sama antara satu Nabi dengan Nabi yang lain. Sedang syariat bisa berbeda-beda dari satu Nabi ke Nabi yang lain karena tergantung waktu dan umat yang berbeda pula[19].




                                                       BAB III
                                                    PENUTUP
Kesimpulan
Dari penjelasan saya diatas mengenai perbedaan antara din, millah,minhaj, dan hanifiyyah dapat saya tarik beberapa kesimpulan yang akan memudahka pembaca yang menyelami dan mendalami makalah saya yang sederhana ini. Isi dan kesimpulan ini bisa saja berubah apabila ditemukan data yang lebih akurat dan valid atau lebih sahih dari yang telah ada dalam makalah saya ini. Karena itu janganlah terlalu berpegang pada makalah ini yang tentunya memiliki banyak kekurangan, baik yang diketahui ataupun tidak diketahui,maka bacalah juga makalah, buku, artikel ataupun bacaan lain yang berhubungan dengan materi yang saya pegang ini yang tentunya akan menambah pengetahuan kita bersama dalam khazanah keilmuan Islam.
Dan di bawah ini adalah kesimpulan yang saya kumpul dari materi makalah ini.
1. Makna din secara bahasa berarti tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi secara turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya (bahasa indonesia), juga berarti hukum peraturan, undang-undang, tuntutan, disiplin, taat, tingkah laku, adat kebiasaan, perhitungan, hutang, balasan, dan ibadah kepada Tuhan (bahasa Arab) atau juga ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi oleh manusia berasal dari kekuatan gaib (bahasa latin dan Eropa).
2. Perbedaan makna ini karena: pengalaman agama adalah soal batini, subjektif, semangat, emosional, dan konsepsi tentang agama yang sangat individualis sifatnya.
3. Syari’ah maknanya adalah aturan-aturan atau hukum-hukum Tuhan yang tertuang dalam Al Qur-an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dan ini tidak bisa dirubah dan diganggu gugat lagi.
4. Minhaj bermakna jalan terang atau juga jelas (B. Arab) dan juga bernakna pendekatan, metode atau cara (B. Indonesia).
5. hanifiyyah bermakna cenderung dari kesyirikan kepada ketauhidan atau juga ikhlas dalam beribadat dengan membersihkannya dari selain Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Al Barry, M. Dahlan. Y dan Yacub, L. Lya Sofyan. 2003. Kamus Induk Istilah Ilmiah (Seri Intelektual). Surabaya: Arkola.

Asy Syahrastani. 2006. AL-Milal wa An-Nihal (Aliran-aliran Teologi dalam Sejarah Umat Manusia).terj.Aswandi Syukur . Surabaya: Bina Ilmu.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka.

Natta, Abuddin. 2007. Metodologi Studi Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah. 1992. Ensiklopedi Islam Indonesia. Jakarta: Djambatan.

http://akhwat.web.id

http://media.isnet.org

http://www.fahmina.org

http://www.hidayatullah.com

http://www.hizbut-tahrir.or.id

http://www.hudzaifah.org



[1] Istilahdapat diartikan sebagai suatu kesepakatan para ahli mengenai makna dari sesuatu setelah terlebih dulu meninggalkan makna kebahasaannnya.
[2] Abuddin Natta. 1993. Al-qur’an dan Hadits (Dirasah Islamiyah I) Cet. I. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hlm. 7
[3] Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah. 1992. Ensikloped Islam Indoneia. Jakarta:Djambatan. Hlm. 218
[4] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka. Hlm. 10.
[5] Abuddin Natta. 2007. Metodologi Studi Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Hlm. 12.
[6] Harun Nasution. 1979. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid I. Jakarta: UI Press. Hlm. 9-10.
7 Ellizabet K. Nottingham. 1985. Agama dan Masyarakat (Suatu PengantarSosiologi Agama), cet. I. Jakarta: Rajawali. Hlm. 4.
[8] Taufik Abdullah. 1990. Metodologi Penelitian Agama (Sebuah Pengantar), cet II. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Hlm. 31.
[9] Abuddin Natta. op. cit. hlm. 14
[10] Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah. op. cit. Hlm. 652.
[11] http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5738&Itemid=55 (online 18 maret 2008)
[12] http://www.hizbut-tahrir.or.id/2007/11/12/dari-trialog-peradaban-ke-aliansi-global-menentang-hegemoni-kapitalisme/ (online 18 maret 2008)
[13] http://www.fahmina.org/fi_id/index.php?option=com_content&task=view&id=23&Itemid=30 (online 18 maret 2008)
[14] http://www.fahmina.org/fi_id/index.php?option=com_content&task=view&id=23&Itemid=30 (online 18 maret 2008)
[15] http://www.hudzaifah.org/PrintArticle65.phtml (online 18 maret 2008)
[16] http://media.isnet.org/isnet/Nadirsyah/Fiqh.html (online 18 maret 2008)
[17] http://www.rahima.or.id/SR/02-01/Fokus1.htm (online 18 maret 2008)
[18] http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/2008/02/01/cara-mudah-memahami-ushuluts-tsalatsah (online 18 maret 2008)
[19] http://www.rahima.or.id/SR/02-01/Fokus1.htm (online 18 maret 2008)

DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW KEPADA KABILAH dan INDIVIDU (SIRAH NABAWIYYAH)

DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW

KEPADA BERBAGAI KABILAH DAN INDIVIDU

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bulan dzul-qa’idah tahun kesepuluh dari nubuwah, tepatnya pada akhir bulan juni atau awal bulan juli tahu 619 M, Rasulullah SAW kembali ke Mekkah untuk memulai langkah baru menawarkan Islam kepada berbagi kabilah dan individu. Pertimbangan lain, karena musim haji sudah dekat, sehingga orang-orang akan berbondong-bondong datang ke Mekkah dari segala penjuru untuk menunaikan kewajiban haji, melibatkan diri dalam berbagai kepentingan untuk diri mereka sendiri dan mengingat Allah. Maka beliau pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Beliau mendatangi setiap kabilah untuk menawarkan Islam dan menyeru mereka untuk masuk Islam, seperti yang beliau lakukan sejak tahun keempat dari nubuwah.
Ibnu sa’d berkata,”pada setiap musim haji Rasukukkah SAW mendatangi dan mengikuti orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji sampai ke rumah-rumah mereka dan pasar-pasar, Ukazh, Majinnah dan Dzi ‘l-Majaz. Beliau mengajak mereka agar bersedia membelanya sehingga Ia dapat menyampaikan risalah Allah, dengan imbalan surga bagi mereka. Tetapi Rasulullah tidak mendapat seorang pun yang membelanya”.
Tidak hanya kabilah, tetapi juga banyak orang yang di tawari Islam oleh Nabi SAW, dan mereka itu akan kami bahas nanti, begitu juga dengan beberapa kabilah yang di tawari oleh beliau.
Setiap kali Rasulullah berseru kepada mereka dangan seruan:
“Wahai manusia! Ucapkanlah La Ilaha Illa Allah, niscaya kalian beruntung. Dengan kalimat ini kalian akan menguasai bangsa Arab dan orang-orang Ajam. Jika kalian beriaman, maka kalian akan menjadi raja di surga”
Abu Lahab menguntit Rasulullah SAW, seraya menimpali, ”Janganlah kalian mengikutinya! Sesungguhnya ia seorang murtad dan pendusta.” Sehingga banyak dari mereka yang menolak dengan kasar dakwah Nabi SAW.



BAB II
                        DAKWAH KEPADA KABILAH DAN INDIVIDU

A. Kabilah-Kabilah Yang Di Tawari Islam
Az-zuhri berkata,”Orang-orang yang pernah menyebutkan kepada kami nama-nama kabilah yang di datangi Rasulullah SAW dan diseru masuk Islam adalah Bani Amir bin Sha’sha’ah, Muharib bin Khafshafah Ghassan, Murrah, Hanifah, Sulaim, Abs, Bani Nashr, Bani Al-Bakka’, Kindah, Kalb, Al-Harits bin Ka’b, Udzrah dan Hadhramy. Namun tak seorang pun di antara mereka yang memenuhi seruan beliau.
Kabilah-kabilah yang di sebutkan Az-zuhri ini bukan mereka yang ditawari Islam dalam satu tahu atau satu musim haji. Tapi hal itu berlangsung sejak tahun keempat hingga musim haji terakhir sebelum hijrah. Usaha menawarkan Islam itu tidak bisa disebutkan pada tahun keberapa dan kepada kabilah yang mana. Memang disana ada beberapa kabilah yang di pastikan Al-Manshufury ditawari Islam pada musim haji tahun kesepuluh. Adapun cara yang di tempuh beliau dalam menawarkan Islam dan bagaimana penolakan mereka, telah digambarkan oleh Ibnu Ishak sebagai berikut:
1. Bani Kalb. Nabi SAW datang sendiri ke perkampungan mereka, yang juga disebut Bani Abdullah. Beliau menyeru mereka kepada Allah dan berhadaapn langsung dengan mereka. Beliau bersabda kepada, ”Wahai Bani Abdullah, sesungguhnya Allah membaguskan nama bapak kalian”, namun mereka tetap menolak apa yang di tawarkan itu.
2. Bani Hanifah. Beliau mendatangi mereka, dari pintu ke pintu dari rumah ke rumah dan beliau sendiri yang menawarkan kepada mereka. Namun tak seorang pun di antara orang-orang Arab yang lebih buruk penolakannya dari pada penolakan mereka.
3. Bani Amir bin Sha’sha’ah. Beliau medatangi mereka dan mereka kepada Allah. Mereka semua menolak seruan beliau.

B. Individu Selain dari Mekkah Yang Di Tawari Islam
Tidak hanya kepada kabilah atau utusan yang di tawari Islam oleh Rasulullah tapi juga pribadi atau indvidu yang dating ke Mekkah. Di antara mereka ada yang menerimanya dengan baik, ada pula yang beriman tak lama kemudian setelah musim haji. Inilah gambaran singkat mereka:
1. Suwaid bin Shamit
Dia adalah penyair yang cerdas salah seorang penduduk yatsrib yang di juluki AL-kamil oleh kaumnya. Julukan ini di berikan karena warna kulitnya, syairnya, kehormatan dan nasabnya. Ke-Islamannya terjadi pada awal tahun kesebelas dari nubuwah. Dia datang ke Mekkah untuk menunaikan haji dan umrah. Lalu rasul SAW mengajaknya masuk Islam.
Rasul membacakan Al-Quran dan menyerunya untuk masuk Islam. Setelah menyatakan masuk Islam, Suwaid berkata, “ini adalah kata-kata yang benar-benar bagus.” Tapi tak lama setelah tiba di Yatsrib, dia terbunuh dalam perang Bu’ats.
2. Iyas bin Mu’adz
Dia seorang pemuda belia dari penduduk Yatsrib, yang datang ke Mekkah bersama rombongan utusan dari Aus, dengan tujuan mencari sekutu dari Quraisy bagi kaumnya untuk menghadapi Khazraj. Hal ini terjadi sebelum meletus perang Bu’ats pada permulaan tahun kesebelas dari nubuwah. Sebab bara permusuhan antara kaum Aus dan Khazraj sewaktu-waktu bias meledak. Sementara jumlah Aus lebih sediki dari khazraj.
Tatkala mengatahui kedatangan mereka, Rasul pun mendatangi dan menjelaskan kepada mereka tentang Islam, kemudian Rasul membacakan Al-Quran.
Iyas berkata,”wahai kaumku, demi Allah ini lebih baik dari apa yang ada pada kalian.” Kemudian salah seorang dari rombongannya memungut asir dan menaburkannya di muka Iyas karena tidak setuju dengan perkataannya. Dan Iyas pun hanya diam saja. Kemudian mereka kembali ke Yatsrib tanpa membawa hasil apa-apa dari rencana mereka semula.
Setelah tiba di Yatsrib, Iyas senantiasa bertakbir, bertahlil, bertahmid, dan bertasbih, hingga dia meninggal dunia. Mereka tidak meragukan bahwa ia telah masuk Islam.
3. Abu Dzarr Al-Ghifari
Dia termasuk penduduk di pinggiran yatsrib. Tatkala kabar tentang di utusnya Nabi SAW telah menyebar di Yatsrib yang telah di bawa oleh Suwaid bin shamit dan Iyas bin Mu’adz, kabar ini pun akhirnya sampai juga ke telinga Abu Dzarr yang dari sinilah sebab ke-Islamannya.
Kemudian dia mengatakan kepada saudaranya untuk pergi ke Makkah untuk mencari kabar, setelah itu saudaranya kembali dan berkata,”Demi Allah, aku telah melihat seorang laki-laki yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan,” tapi kabar itu tak membuat Abu Dzarr puas kemudian dia ke Makkah, setelah tiba di masjid dia bertemu Ali yang membawanya ke penginapan, esok harinya ia ke masjid untuk bertanya tentang Nabi, tapi tak seorang pun yang memberikan informasi kapadanya, hingga ia bertemu dengan Ali dan di tanyakan tentang keperluannya, karena Ali menjamin menjaga rahasia tentang pertanyaan Abu Dzarr, maka Abu Dzarr pun bertanya tentang Nabi, kemudian bertemulah ia dengan Nabi dan Nabi pun menjelaskan Islam kepadanya dan ia pun masuk Islam seketika itu. Setelah itu Nabi memerintahkan untuk balik ke negerinya hingga ia memperoleh kabar kemenangan dan ia boleh datang lagi ke Makkah.
Bukannya kembali, Abu Dzar justru pergi ke masjid, yang saat itu orang-orang Quraisy sedang berada di sana sambil berteriak,”Wahai orang-orang Quraisy, aku bersaksi tida Illah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” Dan seketika itu orang-orang Quraisy mengepung dan memukulinya.
Al-Abbas yang melihat keadaannya langsung melindungi dengan menelungkupkan badannya. Setelah itu dia menghadapi mereka dan berkata,” celakalah kalian yang hendak membantai seorang dari Ghiffar, padahal Ghiffar merupakan tempat kalian berdagang dan jalur yang kalian lewati.”
Akhirnya mereka melepaskannya. Esok harinya ia berbuat hal yang sama dan orang Quraisy melakukan hal yang sama pula hingga datang Al-Abbas melihat dan melindunginya seperti yang di lakukannya pada hari sebelumnya.
4. Thufail bin Amr Ad-Dausy
Dia orang terpandang, penyair yang cerdas dan menjadi pemimpin kabilahnya, Daus. Kabilahnya sendiri memiliki keemiratan atau yang menyerupai bentuk keemiratan, mencakup beberapa wilayah di Yaman. Dia datang ke Mekkah pada tahun kesebelas dari nubuwah. Sebelum tiba di Mekkah, dia di sambut sanak saudaranya di Mekkah. Mereka rela mengeluarkan biaya berapa pun untuk menyambut kedatangannya dengan meriah. Mereka juga mengatakan bahwa ada orang yang memecah belah persatuan mereka dan mencaci urusan mereka dan orang itu seperti sihir. Dan mereka melarang untuk menemui dan berbicara dengan orang tersebut. Mereka terus-menerus mengatakan itu kepada Thufail hingga Thufail tidak mau mendengar atau berbicara dengan orang yang di maksud oleh mereka. Dan dalam perjalanan ke masjid dia menyumbat telinganya dengan kapas agar tidak mendengar tentang orang itu.
Setiba di masjid, Nabi berdiri shalat di dekat ka’bah dan Thufail ada di dekat Nabi. Tapi Allah menghendaki agar Thufail medengar sebagian kata-kata Nabi, maka dia mendengarnya dengan baik. Dia berkata dalam hati bahwa dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
Dan tatkala Rasul pulang dia mengukutinya dan masuk ke rumah Nabi. Dia menyampaikan kisah kedatangannya, tentang orang-orang menakuti-nakuti dirinya hingga tentang penyumbatan telingannya. Lalu dia meminta Rasul untuk menjelaskan urusan Nabi. Maka Rasulullah menjelaskan tentang Islam dan membacakan ayat Al-quran. Dan seketika itu ia masuk Islam, dan kembali ke kaumnya dan mengajak bapak dan istrinya masuk Islam dan keduanya pun masuk Islam. Kaumnya tidak mau begitu saja masuk Islam tapi dia selalu bersama mereka, hingga dia hijrah bersama 70 atau 80 keluarga dari kaumnya setelah perang Al-Khandaq. Kemudian dia mendapat cobaan yang baik demi Islam, yakni terbunuh sebagai seorang mati syahid pada Perang Al-Yamamah.
5. Dhimad Al-Azdy
Dia berasal dari Azd Syanu’ah dari yaman, dan dia biasa memberi pengobatan dengan cara menghembuskan angin. Dia dating ke Mekkah dan mendengar orang-orang berkata,” sesungguhnya Muhammad adalah gila.”
Dia berkata sendiri,”aku akan menemui orang ini, siapa tahu Allah bisa menyembuhkannya berkat pengobatanku.”
Setelah menemui beliau, dia menawarkan pengobatan tersebut, lalu Rasulullah bersabda,”sesungguhnya pujian itu bagi Allah. Kami memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya.siapa yang di beri petunjuk oleh Allah, tak seorang pun bisa menyesatkannya, dan siapa yang di sesatkan Allah,tak seorang pun yang bias memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Illah salain Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”
Kemudian dia meminta untuk di ulangi lagi perkataan tersebut, maka Rasul pun mengulanginya. Dan Dhimad pun berbaiat menyatakan ke-Islamannya.

Selain kelima orang tersebut di atas ada lagi 6 orang dari penduduk yatsrib yang berasal dari Khazraj,mereka adalah:
1. As'ad bin Zurara, dari Bani An-Najjar
2. Auf bin Al-Harits bin Rifa’ah bin Afra’, dari Bani An-Najjar
3. Rafi bin Malik bin Al-Ajlan, dari Bani Zuraiq
4. Quthbah bin Amir Bin Hadidah, dari Bani Salamah
5. Uqbah bin Amir bin Naby, dari Bani Ubaid bin Ka’b
6. Jabir bin Abdullah bin Ri’ab, dari Bani Ubaid bin Ghanm
Rasulullah bertemu mereka saat Ia melewati Aqabah di Mina. Dan Rasul pun duduk bersama mereka dan menjelaskan tentang Islam serta mengajak mereka kepada Allah dan membacakan Al-Quran.
Sekembalinya ke Yatsrib, mereka membawa risalah Islam dan menyebarkannya di sana. Sehingga tiap rumah sudah menyebut nama Nabi SAW.



                                                          BAB III
                                                        PENUTUP

Kesimpulan
1. Rasulullah SAW berdakwah tanpa putus asa dan gigih menyampaikan Islam kepada siapa saja dan dimana saja.
2. Sebelum hijrah Rasulullah berdakwah tidak hanya kepada orang-orang Mekkah saja tetapi juga kepada berbagai kabilah dan individu yang datang dari luar Mekkah khususnya untuk beribadah haji dan umrah.
3. Kabilah-kabilah yang di tawari Rasulullah antara lain: Bani Kalb, Bani Hanifah, Bani Amir bin Sha’sha’ah.
4. Beberapa orang yang di tawari Islam oleh Rasul Antara lain: Suwaid bin Shamit, Iyas bin Mu’adz, Abu Dzarr Al-Ghifari, Thufail bin Amr Ad-Dausy, Dhimad Al-Azdy.
















DAFTAR PUSTAKA

Al-Buthy, Muhammad Sa’id Ramadhan.1997. Sirah Nabawiyah (Analisis Ilmiah Manhajiah Terhadap Sejarah Pergerakan Islam Di Masa Rasulullah SAW). Jakarta: Rabbani Press.

Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman.2007. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

An-Nadwy, Abdul Hasan Ali Al-Hasany. 1989. Sirah Nabawi (Riwayat Hidup Rasulullah SAW). Surabaya: Bina Ilmu.

RASM AL-QUR’AN (Ulumul Qur'an)

RASM AL-QUR’AN

BAB I

PENDAHULUAN


Pada zaman sekarang ini yang katanya zaman modern atau zaman yang sudah maju, sehingga hal-hal yang berbau klasik atau lama sepertinya sudah jarang diperhatikan. Bahkan terkesan sepertinya harus dihilangkan dan dilupakan. Karena kataya sudah tidak sesuai dengan zamannya lagi.
Begitu juga dengan kitab suci kita yaitu Al-qur’an karim yang oleh banyak pihak mulai dan sudah diganggu ke-autentikannya dari segi manapun, termasuk juga dari segi tulisannya dan perbedaan antara tulisan yang satu dengan tulisan yang lain. Dan hal ini merupakan hal yang sangat mengganggu dan meresahkan di kalangan umat Islam. Sebagai contonya adalah dari kalangan orientalisme.
Dalam banyak penelitan mereka, para orientalis menyebarkan berbagai syubhat batil seputar Al-Quran. Seorang orientalis bernama Noeldeke dalam bukunya, Tarikh Al-Quran, menolak keabsahan huruf-huruf pembuka dalam banyak surat Al-Quran dengan klaim bahwa itu hanyalah simbol-simbol dalam beberapa teks mushaf yang ada pada kaum muslimin generasi awal dulu, seperti yang ada pada teks mushhaf Utsmani. Ia berkata bahwa huruf mim adalah simbol untuk mushhaf al-Mughirah, huruf Ha adalah simbol untuk mushhaf Abu Hurairah. Nun untuk mushhaf Utsman. Menurutnya, simbol-simbol itu secara tidak sengaja dibiarkan pada mushhaf-mushhaf tersebut sehngga akhirnya terus melekat pada mushhaf Al-Quran dan menjadi bagian dari Al-Quran hingga kini. Berkaitan dengan sumber penulisan Al-Quran, kaum orientalis menuduh bahwa isi Al-Quran berasal dari ajaran Nasrani, seperti tuduhan Brockelmann. Sedangkan Goldziher menuduhnya berasal dari ajaran Yahudi. Kaum orientalis yakin bahwa Al-Quran adalah buatan Muhammad.[1]
Disinilah perlunya dan harusnya kita mempelajari kembali tentang ilmu Al-qur’an dari awal sehingga tidak terjadi putusnya sejarah awal Al-qur’an diturunkan dan dibukukan dalam bentuk mushaf seperti yang telah ada di zaman sekarang ini.

BAB II

RASM AL-QUR’AN


1. Definisi Rasm Al-quran Dan Rasm ‘Utsmani
Rasm qur’an yaitu penulisan mushaf Al-qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakannya.
Penulisan Al-qur’an pada masa Nabi SAW dilakukan oleh para sahabat-sahabatnya. Nabi juga membentuk tim khusus untuk sekretaris (juru tulis) Al-qur’an guna mencatat setiap kali turun wahyu. Diantara mereka ialah; zaid binTsabit, Ubai bin Ka’ab dan Tsabit bin Qais.[2]
Pada waktu itu mereka menulis Al-qur’an berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Baik dalam penulisannya maupun dalam urutannya. Pada masa khalifah Abu Bakar sedikitnya ada 70 hafidz Al-qur’an yang mati syahid dalam suatu peperangan meluruskan orang-orang yang murtad dari agama Islam. Kemudian ketika itu Umar bin Khattab mengajukan usul kepada khalifah untuk mengumpulkan catatan-catatan Al-qur’an menjadi satu. Dengan berbagai pertimbangan Abu Bakar menerima usulan Umar, sehingga dibentuklah tim penuls Al-qur’an yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Tim menulis ayat-ayat Al-qur’an dengan berpegangan dengan ayat-ayat Al-qur’an yang disimpan oleh Nabi SAW. dan ayat-ayat yang dihapal oleh para sahabat yang masih hidup. Sesudah Abu Bakar wafat, tulisan tersebut diserahkan kepada Umar bin Khattab lalu diserahkan lagi kepada khafsoh.
2. Pola Penulisan Al-Qur`an Dalam Mushaf Utsmani
Bangsa Arab sebelu Islam dalam tulis menulis menggunakan khot Hijri. Setelah datang Islam dinamakan Khot Kufi.[3] Sejauh itu Bahasa dapat terpelihara dari kerusakan-kerusakan, karena ada kemampuan berbahasa yang tertanam dalam jiwa mereka.
Pada masa khalifah utsman bin Affan, umat Islam telah tersebar ke berbagai kepenjuru dunia sehingga pemeluk agama Islam bukan hanya orang-orang Arab saja. Pada saat itu muncul perdebatan tentang bacaan Al-Qur’an yang masing-masing pihak mempunyai dialek yang berbeda. Sangat di sayangkan masing-masing pihak merasa bahwa bacaan yang di gunakannya adalah yang terbaik.[4]
Untuk mengantisipasi kesalahan dan kerusakan serta untuk memudahkan membaca Al-Qur`an bagi orang-orang awam, maka Utsman bin Affan membentuk panitia yang terdiri dari 12 orang untuk menyusun penulisan dan memperbanyak naskah Al-Qur`an. Mereka itu adalah: 1. Sa`id bin Al-As bin Sa`id bin Al-As, 2. Nafi bin Zubair bin Amr bin Naufal, 3. Zaid bin Tsabit, 4.Ubay bin ka`b, 5.Abdullah bin az-Zubair, 6.Abrur-Rahman bin Hisham, 7.Khatir bin Aflah, 8. Anas bin Malik, 9.Abdullah bin Abbas, 10. Malik bin Abi Amir, 11. Abdullah bin Umar, 12. Abdullah bin Amr bin al-As.[5] Mereka inilah yang menyusun mushaf Al-Qur`an yang kemudian di kenal dengan mushaf Utsmani, ada juga yang mengatakan bahwa panitia yang di bentuk oleh Utsman ada empat orang mereka itu adalah Zaid bin Tsabit, abdulalh bin Zubair, Sa’id bin Al-As dan Abdurrahman bin Al-Harits [6], karena di tetapkan pada masa khalifah Utsman bin Affan. Mushaf itu ditulis dengan kaidah-kaidah tertentu. Para Ulama meringkas kaidah-kaidah itu menjadi 6 istilah, yaitu:
a. Al-Hadzf(membuang, menghilangkan, ataumeniadakan huruf). Contohnya, menghilangkan huruf alif pada ya`nida` ,dari tanbih , pada lafadzh ,dan dari kata na .
b. Al-Jiyadah(penambahan), seperti menambahkan huruf alif setelah wawu atau yang mempunyai hokum jma` ( ) dan menambah alif setelah hamzah marsumah (hamzah yang terletak di atas tulisan wawu) ( ).
c.. Al-hamzah, salah satu kaidahnya berbunyi bahwa apabila hamzah berharakat sukun, di tulis dengan huruf berharakat yang sebelumnya, contoh “i`dzan( ) dan “u`tumin”( ).
d. Badal (penggantian), seperti alif di tulis dengan wawu sebagai penghormatan pada kata , .
e. Washal dan Fashl (penyambungan dan pemisahan), seperti kata kul yang di iringi kata ma di tulis dengan di sambung ( ).
f. Kata yang dapat dibaca dua bunyi. Penulis kata yang dapat di baca dua bunyi disesuaikan dengan salah satu bunyinya. Di dalam mushaf `Utsmani, penuli kata semacam itu di tulis dengan menghilangkan alif, misalnya “maliki yaumiddin”( ). Ayat di atas boleh di baca dengan menetapkan alif(yakni di baca dua alif),boleh juga hanya menurut bunyi harakat (yakni dibaca satu alif).[7]
3. Kedudukan Rasm ‘Utsmani
Khalifah Utsman menyuruh ziad bin Tsabit untuk mengambil suhuf dari A’isyah sebagai perbandingan dengan suhuf yang telah disusun oleh panitia yang telah dibentuk Utsman, dan melakukan pengoreksian terhadap kesalahan-keslaahan yang ada pada mushaf yang dipegang oleh panitia. Khalifah Utsman juga melakukan verifikasi dengan suhuf resmi yang sejak semula ada pada Hafsah guna melakukan verifikasi dengan mushaf yang dia pegang.
Seseorang bisa jadi keheran-heranan mengapa khalifah ‘Utsman bersusah payah mengumpulkan naskah tersendiri sedang akhirnya juga dibandingkan dengan suhuf yang ada pada Hafsah. Alasan yang paling mendekati kemungkinan barangkali sekedar upaya simbolik. Satu dasawarsa sebelumnya ribuan sahabat, yang sibuk berperang melawan orang-orang murtad di Yamamah dan di tempat lainnya, tidak bisa berpartisipasi dalam kompilasi suhuf. Untuk menarik lebih banyak kompilasi bahanbahan tulisan, naskah Utsman tersendiri(independen) memberi kesempatan kepada sahabat yang masih hidup untuk melakukan usaha yang penting ini.[8]
Dalam keterangan diatas, tidak terdapat inkonsistensi di natara suhuf dan mushaf tersendiri, dan dari kesimpulan yang luas ini terdapat: pertama, sejak awal teks Al-qur’an ini sudah benar-benar kukuh hingga abad ketiga. Kedua metodologi yang dipakai dalam kompilasi Al-qur’an pada zaman kedua pemerintahan sangat tepat dan akurat.
Setelah naskah mushaf tersebut selesai dibuat, maka disebarkan dan dibuat menjadi beberapa duplikat dan dikirimkan ke beberapa tempat. Maka tak perlu lagi ada fragmentasi tulisan Al-qur’an yang bergulir di tangan orang-orang. Oleh karena itu semua pecahan tulisan (fragmentasi) Al-qur’an telah dibakar. Mus’ab bin Sa’d menyatakan bahwa masyarakat telah menerima keputusan Utsman, setidaknya tidak mendengar kata-kata keberatan. Riwayat lain mengukuhkan kesepakatan ini, termasuk Ali bin Abi Thalib berkata,”Demi Allah, dia tidak melakukan apa-apa dengan pecahan-pecahan (mushaf) kecuali dengan persetujuan kami semua (tak ada seorang pun diantara kami yang membantah)”.
Di dalam melakukan pengumpulan tujuan utama Utsman adalah ingin menutup semua celah-celah perbedaan dalam bacaan Al-qur’an dengan mengirim mushaf atau mengirim sekalian dengan pembacanya.dan juga dengan dua perintah: 1. agar membakar semua mushaf milik pribadi yang berbeda denganmushaf milikya harus dibakar.[9] 2. agar tidak membaca sesuatu yang berbeda dengan mushaf Utsmani. Oleh karena itu adanya kesatuan secara total yang ada teks Al-qur’an di seluruh dunia selama empat belas abad, diberbagai wilayah dengan warna-warni yang ada, merupakan bukti keberhasilan Utsman yang tak mungkin tersaingi oleh siapa pun dalam menyatukan umat Islam dalam satu teks.[10]

4. Hukum Penulisan Dengan Rasm Utsmani
Para ualma berbeda pendapat mengenai status Rasm utsmani atau Rasm Al-qur’an. Pendapat-pendapat tersebut ialah:
a. sebagian ulama berpendapat bahwa Rasm Al-qur’an itu bersifat tauqifi[11], sehingga wasjib di ikuti oleh siapa saja ketika menulis Al-quran. Untuk menegaskan pendapatnya,mereka merujuk pada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi pernah bersabda Mu’awiyah, salah seorang sekretatarisnya,”Letakkan tinta. Pegang pena baik-baik. Luruskan huruf ba’.bedakan huruf sin. Jangan butakan huruf min. perbaguslah (tulisan) Allah. Panjangkanlah (tulisan) Ar-Rahman dan perbaguslah (tulisan) Ar-RAhim. Lalu letakkan penamu di atas telinga kirimu, karena itu akan memuatmu lebih ingat”.[12]
Al-Qattan dalam bukunya berpendapat bahwa tidak ada suatu riwayat dari Nabi yang dijadikan alas an untuk menjadikan Rasm Utsmani sebagai tauqifi. Rasm Utsmani merupakan kreatif panitia yang telah di bentuk Utsman sendiri atas persetujuannya. Jika di antara panitia itu ada berbeda pendapat dalam menulis mushaf, maka hendaknya di tulis dengan lisan Quraisy karena dengan lisan itu Al-Qur’an turun.[13]
b. Sebagian besar Ulama berpendapat bahwa Rasm Utsmani bukan tauqifi, tetapi merupakan kesepakatan cara penulisan (ishtilahi) yang di setujui Utsman dan diterima ummat, sehingga wajib di ikuti dan ditaati siapapun ketika menulis Al-Qur`an.[14] Banyak Ulama terkemuka menyatakan perlunya konsistensi menggunakan Rasm Utsmani. Asyhab berkata ketika ditanya tentang penulisan Al-qur`an, apkah perlu menulisnya seperti yang di pakai banyak orang sekarang, Malik menjawab, “Aku tidak berpendapat demikian. Seseorang hendaklah menulisnya sesuai dengan tulisan pertama.”[15]Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata, “Haram hukumnya menyalahi khot Utsmani dalam soal wawu, alif, ya` atau huruf lainnya.”[16]
c. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Rasm Utsmani bukanlah tauqifi. Tidak ada halangan untuk menyalahinya tatkala suatu generasi sepakat menggunakan cara untuk menuliskan Al-qur’an ayng berlainan dengan Rasm Utsmani.[17]
Berkaitan denganketiga pendapat diatas, Al-Qattan memilih pendapat yang kedua karena lebih memungkinkan untuk memelihara Al-qur’an dari perubahan dan penggantian hurufnya. Seandainya setiap masa diperbolehkan menulis Al-qur’an sesuai dengan trend tulisan pada masanya, perubahan tulisan Al-qur’an terbuka lebar pada setiap masa. Padahal, setiap kurun waktu memiliki trend tulisan yang berbeda-beda. Al-qattan menegaskan bahwa perbedaan Khot pada mushaf-mushaf yang ada merupakan hal lain. Yang pertama berkaitan dengan huruf , sedangkan yang kedua berkaitan dengan cara penulisan huruf.[18] Untuk memperkuat pendapatnya, Al-qattan mengutip ucapan Al-Baihaqi di dalam kitab Syu’b Al-Iman,”Siapa saja yang hendak menulis mushaf hendaknya memperhatikan cara mereka yang pertama kali menulisnya. Janganlah berbeda dengannya. Tidak boleh mengubah sediitpun apa-apa yang telah mereka tulis karena mereka lebih banyak pengetahuannya, ucapan dan kebenarannya lebih dipercaya, serta dapat memegang amanah dari pada kita. Jangan ada diantara kita yang merasa dapat menyamai mereka.”
5. Penulisan dan Percetakan Rasm Utsmani
Mushaf yang ditulis atas perintah Utsman bin Affan tidak memiliki harakat dan tanda titik sehingga dapat dibaca dengan salah satu qira’at yang tujuh. Dan banya terjadi kesulitan bagi orang non-arab yang baru masuk Islam. Oleh karena itu pada masa khalifah ‘Abd Al-Malik (685-705), dilakukan penyempurnaannya.
Upaya ini tidak berlangsung sekaligus, tetapi bertahap dan dilakukan sampai abad III H (atau akhir abad IX M). Tercatat tiga nama yang disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali meletakkan titik pada Mushaf Utsmani, yaitu: Abu Al-Aswad Ad-Dau’ali, Yahya bin Ya’mar(45-125 H) dan Nashr bin Asim Al-Laits (w.89 H).
Penulisan Al-quran ini di upayakan denga tulisan ayng bagus. Untuk pertama kaliAl-qur’an di cetak di Bunduqiyah pada tahun 1530 M. Tapi ketika dikeluarkan, penguasa gereja memerintahkan pemusnahan kitab suci ini. Cetakan selanjutnya dialkukan oleh seorang jerman bernama hinkelman pada pada athun 1694 M. di jerman. Kemudian disusul oleh Mracci pada tahun 1698 M. di Padoue. Sayangnya tak satupun Al-qur’an cetakan I, II, III ini yang tersisa di dunia Islam dan sayangnya perintis tersebut bukan dari kalangan Islam.
Penerbitan Qur’an dengan label Islam mulai pada tahun 1787, yang lahir di rusia. Kemudian di kazan, lalu di Iran pada tahun 1248 H/1828 M. lima tahun kemudian 8 terbit di Tabriz. Setelah dua kali diterbitkan di Iran setahun kemudian terbit di Jerman.
Di Negara Arab dimuali Raja Fuad dai mesir yang membentukpanitia khusus penerbitan Al-qur’an di peremaptan pertama abad XX. Panitia yang di motori oleh para syaikh Al-Azhar ini pada tahun 1342 H/1923 M. Sejak itulah Al-quran dicetak berjuta-juta mushaf di Mesir dan berbagai negara lainnya.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Rasm Al-qur’an adalah tata cara penulisan Al-qur’an, yang biasa disebut juga dengan rasm Utsmani.
Status hokum Rasm Al-qur’an masih diperselisihkan dalam tiga hal: apakah tauqifi, bukan tauqifi atau ishtilahi.
Rasm Utsmani memiliki fungsi yang sangat besar dalam menyatukan umat Islam.
Pada awalnya rasm Utsmani tidak memiliki tanda baca tapi kemudian di tambahi dan disempurnakan.




DAFTAR PUSTAKA

Al-Azami,M.M. 2005. The History Of Qur’anic Text. Terj. Sohirin Solihin dkk. Jakarta: Gema Insani Press.

Al-Qattan, Manna Khalil. 2001. Studi Ilmu Ilmu Al-Qur’an. Tarj. Mudzakkir AS. Bandung: Pustaka Litera AntarNusa.

Anwar, Rosihon. 2006. Ulumul Qur’an. Bandung: Pustaka Setia.

As-Suyuti, jaluddin. 1978. Al-Itqoan Fi Ulum Al-Qur’an. Beirut: Darul Ma’arif.

As-Shalih, Subhi. 1988. Mabahis Fi Ulum Al-Quran. Beirut: Darul Ilmi.

Az-Zanzani, Abu Abdullah. 1991. Wawasan Baru Tarikh Al-Qur’an. Tarj. Kamaluddin Marzuki Amwar. Bandung: MIZAN.

Chirzin, Muhammad. 2003. Permata Al-Qur’an. Yogyakarta: QIRTAS.

Syadali, Ahmad dan Rofii, Ahmad. 2000. Ulumul Qur’an II. Bandung: Pustaka setia.

FOOTNOTE
[1] http://gasus85.wordpress.com/
[2] Syadali, Ahmad dan Rofii, Ahmad. 2000. Ulumul Qur’an II. Bandung: Pustaka setia. Hal. 21.
[3] As-Shalih, Subhi. 1988. Mabahis Fi Ulum Al-Quran. Beirut: Darul Ilmi. Hal. 361-362.
[4] As-Suyuti, jaluddin. 1978. Al-Itqoan Fi Ulum Al-Qur’an. Beirut: Darul Ma’arif. Juz 5.
[5] Al-A’zami,M.M. 2005. The History Of Qur’anic Text. Terj. Sohirin Solihin dkk. Jakarta: Gema Insani Press. Hal. 99-100.
6. Anwar, Rosihon. 2006. Ulumul Qur’an. Bandung: Pustaka Setia.hal.50
[7] Anwar, Rosihon. ibid.hal.50-52.

[8] Al-A’zami. Op cit. hal. 104
[9] Menurut Ibnu Hajar hal ini tergantung dari induvidu yang memilikinya, apa di hapus, di robek atau di bakar.
[10] Ibid. hal 107
[11] Yakni bukan produk manusia, tetapi merupakan sesuatu yang ditetapkan berdasarkan wahyu Allah, yang Nabi sendiri tidak memiliki otoritas untuk menyangkalnya.
[12] Anwar, rosihon. Op cit hal.52
[13] Al-Qattan, Manna Khalil. 2001. Studi Ilmu Ilmu Al-Qur’an. Tarj. Mudzakkir AS. Bandung: Pustaka Litera AntarNusa.hal.215.
[14] Ibid. hal. 216.
[15]As-Suyuti, Jaluddin. Op. cit. hal 167.
[16] Ibid.
[17] Anwar,Rosihon. Op. cit. hal. 55.
[18] Ibid. hal. 56

telah di presentasikan di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) Surabaya

26 April 2008

SYAFA’AT-SYAFA’AT NABI SAW (Aqidah Washitiyah)

SYAFA’AT-SYAFA’AT NABI SAW


NABI SAW MEMILIKI TIGA SYAFA’AT PADA HARI KIAMAT
Adapun syafa’at yang pertama: beliau akan memberi syafa’at kepada seluruh umat,kecuali selain umat muhammad ditempat pemberhentian sampai diputuskan kembali Nabi-nabi diantara mereka yaitu Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, bin Maryam mengenai syafa’at hingga habis semuanya.
Adapun syafa’at yang kedua: Beliau akan memberi syafa’at pada ahli surga yang mana mereka masuk didalamnya dan pemberian dua syafa’at secara khusus baginya.
Adapun syaafa’at yang ketiga: Beliau akan memberi syafa’at kepada orang yang berhak (patut) mendapat neraka, syafa’at ini adalah untuk para Nabi, orang-orang yang benar atau jujur, dan sebagainya, lalu Beliau memberi pertolongan pada orang yang berhak dineraka agar tidak masuk didalamnya, dan memberi pertolongan bagi orang yang masuk didalamnya agar keluar darinya.


ALLAH MENGELUARKAN DARI SEBAGIAN KELOMPOK MANUSIA DENGAN PERANTARA RAHMAN-NYA, TANPA PERANTARA SYAFA’AT
Allah mengeluarkan beberapa kaum dari neraka tanpa perantara syafa’at, akan tetapi dengan karunia dan Rahman-Nya, dan kekal didalam surga sebagai karunia bagi siapa saja yang masuk didalamnya, Allah menghendaki baginya kaum tersebut, lalu Allah memasukkan mereka kedalam surga.
Macam-macam perkampungan akhirat itu meliputi yaumul hisab ( pehitungan), pahala, siksa, surga neraka, dan perincian dari semua yang telah disebutkan tadi itu telah disebutkan didalam kitab-kitab yang diturunkan dari langit, dan dalam peninggalan ilmu yang ditinggalakandari para Nabi, dan dalam ilmu yang diwariskan olehNabi Muhamad SAW. itu semua cukup, maka barang siapa yang mau mencarinya niscaya ia akan mendapatkannya.

IMAN KEPADA QODAR DAN MARATABUL QODAR
Golongan yang selamat dari golongan ahli sunnah wal-jama’ah adalah yang percaya kepada Qodar (Allah) baik kebaikannya maupun keburukannya.
Iman terhadap Qodar itu ada dua tingkatan, setiap tingkatan ada dua perkara (kehendak).
Adapun derajat takdir tingkatan yang pertama adalah beriman kepada Allah ta’ala yang maha mengetahui terhadap setiap ciptaan-Nya. Dan mereka berbuat dengan ilmu-Nya (Allah) yang terdahulu yang disifati paling dahulu dan kekal selama-lamanya, dan Allah mengetahui semua keadaan mereka dari ketaatan-ketaatn, me’siat-ma’siat, rizqi-rizki dan ajal-ajal mereka, kemudian Allah menulis taqdi-taqdir makhluq (ciptaan) di lauhul mahfudz.
Pertama kali Allah menciptakan Qolam, Allah berfirman : Tulislah, dia (qolama) berkata: apa yang akan saya tulis? Allah berfirman: tulislah sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat.
Maka sesuatu yang menimpa manusia tidak akan terjafi kesalahan, dan sesuatu yang salah dalam perhitungan tidaka akan terjadi menimpa manusia, pena-pena kering (habis tintanya), dan suhuf terlipat sebagaimana Allah berfirman: ”Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa-apa yang terjadi dilangit dan dibumi. Sesungguhnya yang demikian itu ada didalam kitab dan bagi Allah itu adalah mudah”. Dan dia juga berfirman: ”dan tidaklah menimpa suatu musibah dibumi dan tidak pula pada diri kalian kecualitelah diberitakan sebelumnya didalam kitab. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
Tadir yang menyertai ini hanya Allah yang mempunyai ilmunya hingga menjadi peristiwa indah dan terperinci:
Sungguh Allah telah menulis apa-apa yang kehendaki di lauh mahfudz.
Dan ketika Allah menciptakan jasad para jin sebelum meniupkan ruh di jasadnya, Allah mengutus malaikat lalu memerintahkan dengan empat kalimat, Allah berfirman kepada malaikat: tulislah rizqi, ajal, amal dan susah atau bahagianya dan semisalnya.
Maka kelompok ghulatul qodariyah mengingkari taqdir ini dan orang-orang pada saat ini sedikit yang mengingkari.
Dan adapun derajat takdir tingkatan yang kedua adalah kehenak Allah yang nafizdah, dan kehendaknya yang umum, yaitu: beriman dengan apa –apa yang dikehendaki Allahpasti terjadi dan apap-apa yang tidak dikehendaki Allah tidak akan terjadi, dan sesungguhnya apa-apa yang bergerak dilangit dan di umitidak akan teaarjadi kecuali dengan kehendak Allah ynag maha suci :tidak akan terjadi dalam malaikat apa-apa yang tidak dia (Allah) iginkan, dan sesungguhnya dia (Allah) yang maha suci itu maha kuasa atas segala sesuatu dari yang ada sampai pada yang tidak ada, maka tidak ada makhluk di lagit dan di bumi kecuali Allahlah penciptanya yang maha suci, tiada pencipta selain-Nya, dan tiada tuhan selain-Nya.
Berkenaan dengan itu, maka sesungguhnya dia (Allah) sungguh telah memrintahkan kepada hamba-hambanya untuk taat kepada-Nya dan taat kepada utusan-Nya, serta melarang mereka dari ma’siat kepada-Nya.
Dan dia (Allah) yang maha suci itu menyukai orang yang bertqwa, orang-orang yang ihsan, dan orang-orang yang berbuat adil,, dan dia (allah) meridhoi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, tidak menyukai orang-orang kafir, orang-orang fasik, melarang perbuatan keji, hamba-hambanya yang kufur, dan tidak menyukai kerusakan.
Dan hamba-hamba itu berbuat kebaikan, dan Allah pencipta perbuatan mereka, dan seorang hamba adalah: mu’min, kafir, yang berbuat kebaikan, yang berbuat kejahatan, orang yang sholat, orang yang berpuasa.
Dan bagi hamba-hamba itu punya kemampuan atas amal-amal mereka, dan mereka punya keinginan, dan Allah yang menciptkan kemampuan dan keinginan mereka. Sebagimana firman-Nya ”bagi siapa saja yang dia (Allah) kehendaki dari kalian supaya harus tidaklah kalian menghendaki kecuali Allah tuhan semesta menghendaki.
Dan derajat (tingkatan) ini adalah dari ketetapan yang mendustakan dengannya keumuman ketetapan orang yang mana. Nabi SAW menghususkan mereka pada zaman ini, dan kaum itu melampaui batas didalmnya dari orang-orang yang suka menetap-menetapkan, sampi-sampai mereka merampas kemapuan dan ujian seorang hamba, dan mereka mengeluarkan dari perintah-perintah Allah, hukun-hukum dan kemasylatannya.

HAKIKAT IMAN DAN HUKUM ORANG YANG MELAKUKAN DOSA BESAR
Dasar-dasar ahli sunnah waljamaah: sesungguhnya agama dan iman adalah ucapan dan perbuatan, ucapan hati dan lisan, dan perbuatan hati dan lisan dan juga seluruh anggota badan.
Dan sesunggunya iman itu bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan.
Dan bersamaan dengan itu, ahli qiblah tidak kafir dengan kemutlakan ma’siat yang besar-sebagaiman anggota badan melakukannya-tetapi ukhwah imaniyah itu kuat terhadap kema’siatan, sebagaiman firman Allah: ”maka barang siapa yang memaafkan saudaranya dan diikuti dengan kebaikan” dan dia (Allah) berfirman. ”Dan sesungguhnya apabila ada dua golongan dari orang-orang yang beriman yang berperang maka damikanlah keduanya. Maka jika salah satu dari kedua golongan tersebut berbuat aniaya keapada yang lain maka perangilah kelompok yang bearbuat laniaya tersebut sehingga kembali kepada perintah Allah. Maka jika kelompok tersebut telah kembali maka damaikanlah keduanya dengan adil dan berlaku adillah sesungguhnya Allah itu menyukai orang yang berbuat adil ” sesungguhnya orang yang beriman itu bersaudara maka damaikanlah diantara saudaramu itu”.
Dan tidaklah mereka merampas orang fasik yang berharta lagi islam semuanya, dan tidaklah mereka kekal di neraka, sebagaimana perkataan golongan mu’tazilah.
Bahkan orang fasik itu masuk kategori orang yang beriman, sebagiman dalam firman-Nya ’dan sesungghnmya dia tidak termasuk orang yang kategori oarang yang beriman secara mutlak, sebgaiman firman-Nya”sesungguhnya orang-orang yang beriman adalh apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka dan apabil dicakn ayat alquran maka bertmbahlah iamn mereka”. Dan rasul bersabda dalh haditsnyatidaklah beriman seorang pezina ketika berzina dia dalam keadaan beriman, dan tidaklah mencuri seorang pencuriketiak mencuri dia dalam keadaan beriamn, dan tidak pual ia minum khomar ketiak dalm meminumnya dalam keadaan beriman, dan tidaklah dia merampas barang rampasan suatu kemulyaan yang mengngkat derajat manusiamenuraut pandangan merekan ketika merampas dia dalm keadaan beriman.
Dan kami mengatakan: dia adalah orang yang beriman tapi kurang imannnya, atau orang beriman dengan keimanannya lalu ia fasik dalam kesombongan, maka janganlah, maka janganlah memberi gelar atau nama yang mutlak, dan jananlah merampas kemutlakannya.

KEWAJIBAN MENCONTOH SAHABAT DAN MENGINGAT KEUTAMAAN-KEUTAMANNYA
Dasar dari ahlus sunnah wal jama’ah adalah keselamatan hati-hati dan lisan-lisannya bagi para sahabat Nabi sebagaimana disifatkan Allah dalam firmannya dan orang-orang yang datang setelah mereka mengatakan:”Ya Allah.. ampunilah kami dan saudara-saudarakami yang telah mendahuluin kami dalan beriman dan janganlah engkau menjadikan kedengkian dalam hati kami, Ya Allah.... engkaulah yang maha pengasih lagi maha penyayang”. Dan ketaatan Nabi sebagaimana dalam sabdanya:”janagnlah kalian mencaci maki terhadap sahabat-sahabaku, dan mereka menerima sesuatu yang telah ada didalam Al-Qur’an dan Hadits dan juga Ijma’ dari keutamaan-keutamaan mereka dan martabat-martabatnya.
Dan mereka mengutamakan oarang-orang yang telah memberi nafkah sebelum fathu makkah, yaitu hudaoibiyah dan orang yang saling berperang, dan kepada orang-orang setelah fathu makkah, dan mereka mendahulukan kaum muhajirin dari pada kaum anshor.
Dan mereka beriman bahwa Allah itu berfirman pada ahlil badar yang dari 319 orang yang berbunyi:” Kerjakanlah apa-apa yang kalian kehendaki, maka sungguh aku mengampuni kalian”.
Dan sesungguhnya Allah tidak akan memasukkan seseorang kedalam neraka yang saling berjual beli dibawah pohon, sebagaimana yang telah diberi tahukan oleh Nabi, tetapi sungguh Allah telah rela kepada mereka dan juga mereka rela kepadaNya, dan mereka lebih banyak dari 1400 orang.
Dan mereka menyaksikan orang-orang yang telah disaksikan Rasulullah disurga, seperti ’Asyrah, Tsabit bin Qais bin Syammasy dan selain mereka dari para sahabat.
Dan mereka menetapkan sesuatu yang telah dinukil dari Amirul Mu’minin yaitu Ali bin Abi Tholib dan lainnya. Bahwasanya sebaik-baik umat ini setelah Nabinya yaitu Abu Baka, kemudian Umar dan mereka menomor tigakan Utsman dan juga menomor empatkan Ali. Sebagaimana yang telah ditunjukka oleh atsar dan sebagaimana kesepakatan para sahabat atas memajukan Utsman dalam hal bai’ah.
Padahal sebagian ahlus sunnah sungguh berbada terhadap Utsman dan Ali ra setelah mereka sepakat atas memajukan Abu Bakar dan Umar, mana keduanya yang lebih utama? Maka ada segolongan yang memajukan Utsman dan segolongan yang lain diam dan juga mereka menomor empatkan Ali, ada segolongan yang memajukan Ali dan segolongan yang lain diam. Akan tetapi perintah ahlus sunnah menetapkan atas memajukan Utsman kemudian Ali.
Jikalau masalah ini adalah masalah Utsman dan Ali maka menuruit mayoritas ahluss sunnah tidak ada dasar-dasr yang menjadikan perbedaan pendapat yang menyesatkan masalah itu, akan tetapi yang menyesatkan itu adalah masalah ke khalifahannya, oleh sebab itu maka mereka percaya bahwa khalifah setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.
Barang siapa yang mencaci maki pada ke khalifahan salah satu dari mereka, maka ia lebih sesat daripada merpati.

KEDUDUKAN KELUARGA NABI MENURUT AHLUS-SUNNAH
Mereka mencintai keluarga Rasulullah dan menjadikan pemimpin terhadap keluarga beliau dan juga mereka menjaga wasiat Rasulullah terhadap keluarganya. Rasulullah bersabda pada hari Ghadir Kham: ” Aku akan menyebut kalian kepada Allah dalam keluargaku.” dan juga Rasulullah berfirman;” sesungguhnya Allah memilih Bani Isma’il dan memilih Kinanah dari Bani Isma’il dan memilih Quraisy dari kinanah dan memilih Bani Hasyim dari Bani Quraisy dan memilihku dari Bani Hasyim.
Mereka menjadikan istri-istri Rasulullah sebagai pemimpin yaitu sebagai Ummahatul Mu’minin, juga mereka percaya bahwa mereka itu adalah merupakan istri-istri Nabi di akhirat kelak, terutama Sita Khadijah, Ia merupakan seorang Ibu yang banyak anaknya, dan Ia adalah orang pertama kali percaya kepada Nabi, Ia penolong urusan Nabi, dan Ia punya rumah yang paling mewah dari Rasulullah.
Ash-shiddiqah binti Ash-shiddiq ra, bahwa Rasulullah berkata kepadanya:” keutamaan Aisyah atas wanita-wanita yang lain seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan.

MAUQIF AHLUS-SUNNAH WAL JAMA’AH PADA KAROMAH-KAROMAH PARA WALINYA
Dan dasar-dasar ahlus sunnah yaitu mempercayai karomah-karomah para wali dan apa yang Allah berikan kepada mereka dari luar kebiasaan, dalam masalah berbagai macam ilmu dan mukasyafat, dan macam-macam kehendak dan kemuliaan-kemuliaan, dan datangnya umat ini dari para sahabat dan para tabi’in dan semua kelompok umat adalah ada sampai hari kiamat.

SIFAT-SIFAT AHLUS-SUNNAH WAL JAMA’AH
Kemudian termasuk metode ahlus-sunnah wal jama’ah adalah mengikuti jejak-jejak Rasulullah baik secara batin dan dzahir, mengikuti jalan orang dari Assabiqunal Awwalun yaitu dari kaum muhajirin dan kaum anshor, dan juga mereka mengikuti wasiat Rasulullah sebagaimana sabdanya: ”Kalian wajib mengikuti sunnahku dan sunnah khulafur rasyidain yang telah mendapatkan petunjuk setelahku, mereka berpegang teguh dengannya, dan kalian wajib menjauhi Bid’ah, karena sesungguhnya semua yang bid’ah itu adalah menyesatkan”.
Dan mereka mengetahui bahwasanya sebenar-benarnya perkataan adalah firman Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhamad, dan mereka mengutamakan firman Allah daripada perkataan-perkataan selain-Nya, dan mereka mengutamakan petunjuk Nabi atas petunjuk-petunjuk yang datangnya dari selain-Nya.
Dan untuk hal ini mereka mengkhususkan ahlal kitab dan sunnah, dan mereka merngkhususkan ahlal jama’ah; karena sesungguhnya jama’ah adalah kumpulan, dan lawannya adalah terpecah-pecah, dan sesungguhnya lafadz al-jama’ah telah menjadi nama dari sebuah kaum yang berjama’ah.
Dan al-ijma’ adalah tiga dasar yang di dasarkan padanya dalam ilmu dan agama.
Dan mereka menghias dasar yang tiga ini kepada seluruh manusia dari perkataan-perkataan, amal-amal bathiniyah (yang tidak tampak) dan dzahiriyah (yang tampak) yang berkenaan dengan agama.
Dan al-ijma’ yang kuat adalah salafush-shalih, jika setelah mereka terjadi banyak perbedaan (perselisihan), maka tersebar (tersiar) pada umat.

PENJELASAN KESEMPURNAAN AQIDAH DARI KEMULYAAN AKHLAQ DAN KEBAIKAN AMAL-AMAL YANG AHLI SUNNAH KAGUM DENGANNYA
Kemudian dengan dasar ini mereka memerintahkan kepada kebaikan, dan melarang dari kemungkaran, atas apa-apa yang diwajibkan syari’at.
Mereka melihat penegakan haji, jihad, shalat jum’at dan hari raya bersama pemimpin-pemimpin mereka dalam kebenaran atau kejahatan dan mereka menjaga jama’ah.
Dan mereka berbuat baik dengan memberikan nasehat kapada umat, dan mereka mempercayai makna dari sabda Nabi: ”seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti bangunan yang kokoh, yang mana satu sama lainnya saling menguatkan, dan berkaitan antara jari-jarinya”.
Dan beliau bersabda: ”Perumpamaan seorang yang beriman dalam persahabatan, kasih sayang dan dalam saling menaruh simpati diabtara mereka sebagai mana satu badan atau jasad, apabila salah satu bagian darinya ada yang sakit bagian itu mengadukan kepada bagian dengan demam dan tidak bisa tidur”.
Dan mereka memerintahkan sabar ketika terkena bencana dan bersukur ketika lapang, dan ridlo dengan perjalanan takdir.
Dan mereka menyeru kepada kemulyaan akhlaq, dan kebaikan amal, mereka juga percaya dengan makna dari sabda Rasul:”Paling sempurnanya Iman seseorang adalah yang paling baik akhlaqnya.”, dan mereka mengajak agar supaya kamu menyambung tali silaturrahmi pada siapa saja yang memutuskannya, memberi kepada siapa saja yang mencegahmu, dan memaafkan siapa saja yang mendzolimimu, dan mereka memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, menyambung silaturrahmi, baik kepada tetangga, berbuat kepada anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, memberikan manfaat denan suatu yang dimiliki, mencegah dari kesombangan, hayalan, durhaka, memfitnah ciptaan dengan benar atau tidak, menyuruh kepada kemulyaan akhlaq dan mencegah dari perkara yang hina.
Dan setiap apa-apa yang mereka katakan atau mereka kerjakan dari ini dan yang lainnya. Maka sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang mengikuti Al-qur’an dan hadits. Jalan mereka adalah agama islam yang Allah mengutus nabi muhammad saw dari padanya.
Akan tetapi nabi muhammad saw mengabarkan sesunguhnya ummat Islam akan terbagi menjadi 73 golongan, semua akan masuk neraka keuali satu golongan yaitu al-jamaah. Dan dalam hadits nabi saw bersabda: mereka yaitu orang-orang yang sebagaimana saya dan para sahabatku hari ini adalah orang-orang yang berpegang teguh pada islam, orang-orng yang ikhlas dengan cara-cara mereka ahlisunah wal jamaah.
Dan mereka orang-orang benar, orang-orang yang bersaksi, orang-orang shalih, dan mereka mengetahui petunjuk dan juga mereka adalah pelita bagi kegelapan pemilik kebaikan yang terpuji dan keutamaan yang mengingatkan kepada mereka pengganti dan mereka adalah pemuka agama, yaitu orang-orang yang di kumpulkan bersama orang- orang islam atas hidayah. Dan mereka adalah golongan orang-orang yang mendapat pertolongan.
Sebagaimana sabda Rasulullah: masih dalam golongan ummatku atas kebenaran pertolongan, tidaklah mereka merugikan dari kesalahannya, dan tidaklah membiarkan mereka sehingga datang hari kiamat.
Kami bertanya kepada Allah, mengapa Allah menjadikan kami dari golongan mereka? Dan janganlah dibolehkan hati kami setelah urusan ini dan berilah kami dari ilmu kasih sayang , sesungguhnya Dia maha memberi.
Hanya Allah yang tahu.
Dan shalawat dan salam-Nya yang banyak atas Nabi Muhamad, keluarga dan sahabatnya.
Keyword Directory

pengantar umum makalah

assalamu 'alaikum wr. wb.

sengaja saya memasukkan makalah saya di blog saya ini dengan tujuan perbaikan saya kedepannya. dengan kritik dan saran yang tentunya membangun yang saya harapkan karena dengan begitu akan telihat kemampuan saya sebenarnya, tidak seperti "katak dalam tempurung" yang tidak tahu-menahu dan tidak mau tahu dunia luar yang sebenarnya, karena pasti kita semua akan berhadapan dengan realitas masyarakat dimana kita berada.

trims

assalamu 'alaikum wr.wb

04 April 2008

"April Mop" atau "The April Fool Day"

April Mop Adalah Perayaan Pembantaian Ummat Islam
Ummat Islam sangat tidak pantas merayakan "April Mop" atau "The April Fool Day"


Medan- Ummat Islam sangat tidak pantas merayakan "April Mop" atau "The April Fool Day" karena kebiasaan itu merupakan peringatan peristiwa pembantaian ummat Islam di Spanyol pada 1 April 1487 Masehi.

Ummat Islam banyak yang "latah" dan merayakan April Mop tanpa mengetahui dasar dan asal muasal peristiwa tersebut, kata Cendikiawan Muslim, Ir.H.Asmara Dharma dalam tulisannya yang diterima ANTARA di Medan, Minggu.

Ia menjelaskan, perayaan April Mop itu diawali peristiwa penyerangan besar-besaran oleh tentara Salib terhadap negara Spanyol yang ketika itu dibawah kekuasaan kekhalifahan Islam pada Maret 1487 Masehi.

Kota-kota Islam di Spanyol seperti Zaragoza dan Leon di wilayah Utara, Vigo dan Forto di wilayah Timur, Valencia di wilayah Barat, Lisabon dan Cordoba di Selatan serta Madrid di pusat kota dan Granada sebagai kota pelabuhan berhasil dikuasai tentara Salib.

Ummat Islam yang tersisa dari peperangan itu dijanjikan kebebasan jika meninggalkan Spanyol dengan kapal yang disiapkan di pelabuhan Granada. Tentara Salib itu berjanji keselamatan dan memperbolehkan ummat Islam menaiki kapal jika mereka meninggalkan Spanyol dan persenjataan mereka.

Namun ketika ribuan ummat Islam sudah berkumpul di pelabuhan, kapal yang tadinya sandar di pelabuhan langsung dibakar dan kaum muslim dibantai dengan kejam sehingga air laut menjadi merah karena darah.

Peristiwa pembantaian dan pengingkaran janji tersebut terjadi pada 1 April 1487 Masehi dan dikenang sebagai "The April Fool Day".

Selanjutnya, kata Dharma, peristiwa "The April Fool Day" itu dipopulerkan menjadi April Mop dengan "ritual" boleh mengerjai, menipu dan menjahili orang lain pada tanggal tersebut tetapi bernuansa gembira.

"Ritual tersebut disyaratkan dengan tidak bolehnya orang yang ditipu dan dijahili itu marah dan membalas," katanya. Salah seorang remaja muslim, Julia Putri mengaku tidak mengetahui sejarah April Mop tersebut meski sering melakukannya ketika masih di bangku sekolah.

Namun Julia mengaku terkejut jika perayaan April Mop tersebut terkait peristiwa pembantaian ummat Islam di Spanyol.

Sementara itu Rita Sahara, remaja Medan lainnya juga menyatakan tidak mengetahui sejarah awal perayaan April Mop.

Dia menyatakan hanya mengetahui April Mop berkaitan dengan praktik menjahili, menyampaikan informasi bohong dan mengolok-olok orang lain dengan membuat kejutan. Setelah mengetahui sejarah April Mop itu, ia mengimbau ummat Islam khususnya kaum remaja tidak perlu merayakan April Mop karena sama artinya merayakan pembantaian ummat Islam.

antara/abi


Author : PercikanIman.ORG

02 April 2008

Ya Allah, Izinkanlah Hamba........

Ya Allah......
Bila hamba bertemu dengan seseorang
dan hamba jatuh cinta
Izinkanlah hamba menjadi yang terbaik baginya
dan dia yang terbaik bagi hamba

Ya Allah......
Bila Hamba menjadi suami seseorang
Izinkanlah diri hamba menjadi pelindung baginya
izinkanlah wajah hamba menjadi kesenangan baginya
izinkanlah mata hamba menjadi keteduhan baginya
izinkanlah pundak hamba menjadi tempat melepas keresahan baginya
izinkanlah setiap perkataan hamba menjadi kesejukan baginya

Ya Allah......
Izinkanlah setiap pelukan menjadi jalan untuk lebih mendekat kepadaMu
izinkanlah setiap sentuhan menjadi perekat cinta kepadaMu
izinkanlah setiap pertemuan menjadikan kami bersyukur kepadaMu

Ya Allah......
izinkanlah hati yang sangat halus ini tidak pernah merasa tersakiti
izinlanlah hati yang rentan ini tidak pernah merasa terkhianati

Ya Allah......
jiwa kami ada dalam genggamanMu
maka izinkanlah jiwa kami selalu bertaut dalam cintaMu

Ya Allah......
permintaan terakhirku, semoga kami berdua selalu berada dalam perlindunganMu

aamiiin

Harapku...

Ketika surya melabuhkan diri,
lembayung memaparkan keanggunan yang merah
dan...
angin turut menusukan lantunan adzan
ke pori-pori kulit insan

Aku bisikkan desahan penyesalan Kepada-Nya
tentang gambaran yang terekam dalam benak

Ya Rob,... ampuni aku
yang mencoba mengubur gumpalan dosa
membasuh nanah aib
dan...
menambal luka-luka kesalahan
dalam perjalan ini

Sedangkan Rahmat-Mu
seindah lukisan-Mu
tentang gunung, sungai, lembah,
ngarai, hutan...
yang berpayung langit
dengan corak bintang dan bulan

Perjalananku tiba di tengah padang kehidupan
yang harus lalui lautan kendala
jurang kehidupan yang terus saja menganga

Dan satu lagi harapku...
Jika esok kau izinkan aku kembali
tuk lihat hamparan awan
rasakan kehangatan surya pagi,
Tolong tuntun aku...
tuk berikan yang terindah
untuk ayah bundaku...

Bila Aku Jatuh Cinta

Allahu Rabbi aku minta izin Bila suatu saat aku jatuh cinta Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi Aku punya pinta Bila suatu saat aku jatuh cinta Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengankasih-Mu dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi Bila suatu saat aku jatuh hati Pertemukanlah kami Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku Anugerahkanlah aku cinta-Mu... Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !

unknown author

Sebuah Muhasabah Diri

Tuhanku,
Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-MU yang luas
Aku hanyalah setetes embun di lautanMU yang meluap hingga ke seluruh samudra
Aku hanya sepotong rumput di padangMU yang memenuhi bumi
Aku hanya sebutir kerikil di gunung MU yang menjulang menyapa langit
Aku hanya seonggok bintang kecil yang redup di samudra langit Mu yang tanpa batas

Tuhanku
Hamba yang hina ini menyadari tiada artinya diri ini di hadapanMU
Tiada Engkau sedikitpun memerlukan akan tetapi
hamba terus menggantungkan segunung harapan pada MU

Tuhanku..baktiku tiada arti, ibadahku hanya sepercik air
Bagaimana mungkin sepercik air itu dapat memadamkan api neraka MU
Betapa sadar diri begitu hina dihadapanMU
Jangan jadikan hamba hina dihadapan makhlukMU
Diri yang tangannya banyak maksiat ini,
Mulut yang banyak maksiat ini,
Mata yang banyak maksiat ini
Hati yang telah terkotori oleh noda ini memiliki keninginana setinggi langit
Mungkinkah hamba yang hina ini menatap wajahMu yang mulia???

Tuhan, Kami semua fakir di hadapan MU tapi juga kikir dalam mengabdi kepada MU
Semua makhlukMU meminta kepada MU dan pintaku
Ampunilah aku dan sudara-saudaraku yang telah memberi arti dalam hidupku
Sukseskanlah mereka mudahkanlah urusannya

Mungkin tanpa kami sadari , kami pernah melanggar aturanMU
Melanggar aturtan qiyadah kami,bahkan terlena dan tak mau tahu akan amanah
Yang telah Tuhan percayakan kepada kami Ampunilah kami

Pertemukan kami dalam syurga MU dalam bingkai kecintaan kepadaMU
Tuhanku .Siangku tak selalu dalam iman yang teguh
Malamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat,
Pagiku tak selalu terhias oleh dzikir pada MU
Begitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikit
Janganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa pada Mu Atau dalam maksiat kepadaMU
Ya Tuhanku Tutuplah untuk kamu dengan sebaik-baiknya penutupan !!

Dari saudara untuk saudara Perbaiki diri Serulah Orang Lain

unknown author

Eudora

nah ini untuk membaca email offline
setelah install ikuti saja petunjuknya
ok

download eudora for Windows

download eudora for Mac OS X

more info